22 Sep 2008
cer . . . pen
Inoe mau bagi-bagi cerpen inoe ya!
Ini cerpen inoe yang pertama lho! Edisi perdana!
Ga’ tau dapet ilham darimana, .
Padahal baru cerpen pertama, tapi waktu inoe ajuin ke majalah sekolah ternyata diterima lho!
(g’ sombong nie!)
Inoe jadi tambah semangat buwat bikin cerpen-cerpen lainnya! Dukung inoe ya!
Tapi inoe lagi ga’ punya ide nih, yang lagi dapet wahyu tolong kasih inoe saran ya!!
Makasih ya semuanya . .
Sudahkah Kamu Tersenyum Hari Ini ?
Hari ini terasa begitu tak menyenangkan, tugas itu pelajaran itu, sekolah itu, rasanya aku tak sanggup menghadapi semuanya. Langkahku rasanya berat sekali untuk pergi ke sekolah. Dengan wajah cemberut aku masuk ke kelas. Di sana sahabat setiaku, Neike, sudah duduk manis di kursi paling depan sambil membaca sebuah novel. Wajahnya terlihat cerah lagi. Aku tak tahu mengapa ia selalu tampak bahagia setiap harinya, tak pernah sekalipun aku melihatnya murung walaupun ia sedang tak enak badan. Akhirnya kulangkahkan kakiku masuk ke kelas. Suara hentakan sepatuku menggema, suasana memang sepi, belum ada yang datang selain aku dan Neike. Neike terkejut dan melempar pandangannya ke arahku.
" Ah.. kamu Rosa! mengagetkanku saja. wajahmu kau lipat lagi ya? memangnya kenapa sih?", tanya Neike seraya mengejekku.
" Bagaimana tidak, hari ini pasti akan sangat buruk! pelajaran ditambah tugas-tugasnya membuatku jenuh!", omelku.
" Rasanya setiap hari selalu buruk bagimu!", tambahnya.
" Nei, aku boleh pinjam catatan matematikamu? catatanku masih kurang lengkap", pintaku.
" Tentu boleh!", sahutnya. Neike mengambil buku catatan matematikanya, ia termenung sejenak lalu berkata,
" sebentar, ada catatan yang terlupa!", ungkapnya, kemudian ia menulis sesuatu di bukunya. Entahlah, mungkin rumus tambahan.
Tak lama kelas pun mulai ramai, sudah banyak yang datang. Bel masuk yang berbunyi semakin membuatku tak bersemangat. Ternyata dugaanku benar, hari ini memang buruk. Hasil ulangan fisika-ku buruk, soal matematika sulit ku kerjakan, dan penjelasan guru Pkn-ku tak sanggup kuterima. Bel pulang sekolah memang sedikit melegakanku, tapi itu tak cukup menghiburku karena tugas masih setia menanti. Aku keluar kelas agak belakangan. Saat sampai di tengah lapangan sekolah, ku lihat neike terengah-engah sambil memegang dadanya. Tak salah lagi, asmanya pasti kambuh. Aku segera berlari menghampirinya dan membantunya mengambil obat asmanya dari dalam tas.
" Bagaimana? sudah lebih baik?", tanyaku khawatir.
" Terima kasih, Rosa. sudah tak apa-apa", jawabnya lirih.
Aku pun mengajak neike ke pintu gerbang. Disana, mama Neike sudah menunggu di samping mobilnya. Neike menghampiri mamanya, ia menoleh padaku dan melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam mobil. Aku terpaku di tempatku, memandang Neike. dari dalam mobil, neike membuka jendela mobil dan tersenyum padaku. Senyumnya saat itu manis sekali. Perasaanku jadi damai. Neike sudah pulang, deru mobilnya tak terdengar lagi. Aku melangkah pulang sendirian. Sesampai di rumah, aku langsung teringat pada tugasku. Mood-ku kembali memburuk. Kuhabiskan waktuku bersama tugas-tugas melelahkan. Saat malam tiba, kantuk menghampiriku dan dalam sekejap aku terlelap.
Keesokan harinya, mataku terasa berat untuk dibuka. Ahirnya, dengan mata terpejam kucoba meraih gagang pintu kamar. Berhasil! kucoba membukanya, dan... gruduk-gruduk-gruduk!! Sialnya, kardus-kardus kosong menimpaku. Rupanya itu pintu lemari kardus bekas. Aku tersadar, sambil mengelus kepala aku pergi ke kamar mandi. Aku keluar dri tumah, walaupun matahari tersenyum tapi tak bisa merubah suasana hatiku, buruk. Saat kutiba di kelas, keadaannya masih sepi sekali. Neike belum datang, aku akan menunggunya, kali ini aku akan mengagetkannya lagi.
Hm.. 5 menit lagi bel masuk akan berbunyi, tapi Neike belum datang juga. Kulihat ke arah meja guru, ada sepucuk surat. Iseng kubuka surat itu, dari Neike, ternyata hari ini dia tak masuk karena sakit. Selama pelajaran, aku kembali tak bisa berkonsentrasi, Neike-lah yang aku khawatirkan. Biasanya ia selalu menghubungiku apabila terjadi sesuatu.
Pulang sekolah, aku segera menghubungi Neike. Mama neike yang menjawab telponku dan mengatakan bahwa Neike sedang dirawat di Rumah Sakit. Kecemasanku semakin menjadi, apalagi Mama neike bilang bahwa Neike kritis. Aku pergi ke rumah sakit. Sesampainya di sana jantungku berdebar keras sekali. Aku berlari mencari ruangan Neike. Tiba-tiba di sudut ruangan kulihat mama neike tertunduk lesu. Aku menghampirinya dan berdiri dihadapannya. Mama Neike mengangkat kepalanya seraya berdiri dan memelukku. Beliau berbisik di telingaku,
" Neike sudah pergi", bisiknya.
Tubuhku lemas. Terbayang wajah Neike yang berseri dan senyum manisnya yang tak akan kulihat lagi. Mama Neike menyuruhku pulang untuk menenangkan diri. Terakhir kalinya kulihat tubuh Neike terbujur kaku, namun senyum tulus itu tersungging di bibirnya. penyakitnya mengalahkannya.
Di rumah, aku teringat pada buku catatan Neike yang sempat kupinjam. Tulisan mungilnya kembali mengungkit kesedihanku. Aku rasa hari-hari berikutnya akan semakin suram bagiku. Aku tertegun melihat sebuah catatan di halaman tengah buku itu. Kubaca,
Rosa sahabatku,
Tolong jangan bersedih terus ya sahabatku yang lucu, sebenarnya apa yang membuatmu selalu tampak murung seperti itu? aku tak yakin sekolah yang membuatmu seperti itu. Apa kamu tahu kalau aku juga sedih melihatmu seperti itu, namun aku tak mau menunjukkannya agar kamu tak semakin sedih. Rosa, kamu sering bilang kalau harimu itu tak menyenangkan, kamu salah Rosa. Sebenarnya menyenangkan atau tidaknya hari kita tergantung pada bagaimana kita mengawalinya. Aku yakin sekali kalau sebenarnya harimu itu pasti sangat menyenangkan, tapi kamu selalu mengawalinya dengan perasaan sebal dan wajah yang cemberut, sehingga keindahan itu tergantikan dengan keburukan. Pokoknya mulai sekarang kamu harus memulai harimu dengan senyum termanismu agar hidupmu lebih indah karena aku tak mau lagi melihat wajah cemberutmu dan mulai hari ini kamu harus selalu ceria. Tuhan sangat menyukai orang-orang yang mensyukuri kehidupannya dengan bahagia menjalani hari-harinya.
Rosa, sudahkah kamu tersenyum hari ini?
Sahabatmu,
Neike
Neike benar. Mulai saat ini aku akan melakukan apa yang dikatakan Neike, demi hidupku dan Neike.
Label: mine~